berlagak bagai cenayang ahli bermahkotakan kemenyan
menyibakkan asap dari korek serta dedauan yang dibakarnya di atas tungku
asapnya menyesakkan, orang lain maupun dirinya
katanya dia ahli, tapi huh, dia hanya gadungan
dia saja terbatuk-batuk oleh asapnya sendiri
terlalu banyak api
asapnya jelas jadi banyak, mengepul
mau keluar, lupa menaruh kunci
matilah kau hai cenayang, mukamu palsu, mantramu juga palsu
rumah kayumu memang sengaja kau bangun sangat rapat
awalnya orang lain tak tahu bagaimana praktikmu
tapi ternyata itu mebunuhmu
kunci rumahmu kau selipkan di bawah sepatu
agar orang lain tak bisa menemukannya menempel di lubang kunci
payah kau, bahakan kau tak tau kapan tanggal matimu, padahal kau cenayang
palsu . .
Saturday, 28 January 2012
Karyaku Resolusi Kecil 1 Megapiksel
sedekat itu saja aku mudah ternyala nyala
terhening hening kadang tak membalik arah mataku
itu percuma, yang aku gunakan terlalu kecil . . tak sebesar yang kau gunakan
dia berkata bahwa yang kita gunakan sama
sejauh itu pandangannya ke garis horizon
pandanganku malah tertutup botol mizone
itu 1 megapiksel, tapi bisa jadi alat transportasi kataku
apalagi 8 megapiksel, bisa jadi pesawat terbang
liar kataku, imajinasiku 25 megapiksel
bisa menembus waktu, melihat yang sesuatu yang seakan pasti terjadi
dia berkata, bahwa lingkaran yang ia datangi memberi jawaban
25 megapiksel milikku zooming 2 kali lipat
aku save gambarnya, aku katakan padanya
dia berkata, "ooh begitu?"
tapi aku masih takut dengan 8 megapiksel, air garam, dan 22
Wednesday, 11 January 2012
Ruam
Adakalanya kita gatal gatal
Kadang bisa digaruk kadang tidak
Penyakit itu datangnya tak terduga
Jelek, memalukan, risih, tidak nyaman
Katanya ini alergi, tapi sepertinya ini epidemi
Mungkin orang lain juga merasakan gatal dan ruam
Tapi aku susah menemukan obat, niat, kuat
Aku ruam-ruam, memerah seperti darah
Dia berkata padaku, "ruam itu bisa hilang, kamu harus jadi tajam"
Akan aku hilangkan ruam ini sesegera mungkin, mungkin setelah ini
Hilang . .
Kadang bisa digaruk kadang tidak
Penyakit itu datangnya tak terduga
Jelek, memalukan, risih, tidak nyaman
Katanya ini alergi, tapi sepertinya ini epidemi
Mungkin orang lain juga merasakan gatal dan ruam
Tapi aku susah menemukan obat, niat, kuat
Aku ruam-ruam, memerah seperti darah
Dia berkata padaku, "ruam itu bisa hilang, kamu harus jadi tajam"
Akan aku hilangkan ruam ini sesegera mungkin, mungkin setelah ini
Hilang . .
Saturday, 7 January 2012
Osteoporosis
Saat ini
kurasakan sejukmu dalam indah
Menoleh ke
belakang yang juga beraneka
Tusukan tajam
menerjang jantung
Membelah hidupku,
hatiku, dan asa ku
Serasa menemui
cahaya putih, aku bersimpuh di antara kapas
Aku lelaki, aku
juga manusia
Tumpukan rasa ini
berjatuhan, membasahi kapas tempatku terlelap
Malam
menenangkanku, menenggelamkanku dalam gelap, meyelimutiku dalam hangat
(osteoporosis)
Keep In Sight
|
S
|
erpihan dirimu membutakan mataku
Membuatku berjalan hanya dengan meraba
Aku bisa melihatmu namun itu melarutkanku
Berhamburan bagai debu tertiup hembusan angin
Melayang tanpa daya diantara semua cahaya yang mampu membunuhku
Sedikit rangkaian perasaan terhalusku berjatuhan
Menaburi lembaran anganku . .
Angan yang tak beralasan, dan tak dapat terungkap
Perlahan serpihan dirimu menjernihkan mataku
Tak lagi perih, namun semakin indah . .
Melihat hadirmu, marasakan lembutmu, menyentuh ragamu
Tergambar jelas di ruang kosongku, namun tak mampu bersuara
Hanya sebuah lukisan perasaan yang ingin kupajang di dinding hatimu
Aku ingin bulan turun ke bawah dan menyapaku
Dengan sinarnya yang hangat, aku ingin kau melihatku
Berdiri menunggu memberikan lembaran cintaku padamu
(keep in sight)
Bimbang Berbahagia
|
A
|
ku tak bisa dipaksa untuk menghitamkanmu
Ruang terkecilku sudah terisi penuh olehmu
Datang memberiku segenggam api kecil
Namun terangnya hingga cakrawala pikiranku
Menggeser sudut tersempit dalam rongga nafas
terdalamku
Lalu bertiup nafas lembutmu di antara lembaran
hariku
Membasahi hamparan gurun batinku
Panas, menjadi sejuk . .
Itulah dirimu, memutar semua putaran yang tak
berputar
Membingungkanku untuk mewarnaimu
Aku tak berwarna, tapi ingin memberi warna
Bagai tidur diatas pecahan kaca . .
Hanya bisa menelusuri alam hampa
Menerka warna apa yang ingin kuberi
Apakah merah, kuning, atau hijau
Ataukah semuanya?
Datanglah sebuah zat tak berwarna
Yang akhirnya dapat memberiku warna
Mewarnaiku dan mewarnaimu
(bimbang berbahagia)
Kembali . .
A
|
roma lembut nada kunci C mengalir di telingaku
Pita suaraku tak gapai meraih melodi
Melihat cahaya putih tak berbekas
Meninggalkan angan seakan membungkusnya dengan
rapi
Milyaran genggam api coba kunyalakan
Tetap membungkam mulutku dan melipat lidahku
Angin tak bertiup ramah, hingga senja menggantung
Kunyalakan lagi api, dan kali ini terang
Cukup untuk membakar kain sutra yang tergulung
Kainnya terbakar tetapi tidak hangus
Hanya saja tetap menyala terbakar hingga sekarang
Dan menjadi api terang abadi hingga angan keluar
dari bungkusnya
(kembali)
SUDAHKAH AKU BIRU?
S
|
elembar daun bermahkotakan embun terlihat biru di mataku
Hamparan api tak memerahkan pandanganku
Semua masih biru, beku . .
Langitpun biru, lautpun biru, semua masih biru
Biru biru biru
Itu aku yang memanggilmu namun suaraku tak lagi biru
Hitam seperti langit malam, tak bersuara
Mencoba biru, tapi masih hitam . .
Tetes embun membasahi akar hatiku
Dan sekarang hijau
Tetap mencoba biru tapi masih hijau
Hamparan api membakar mataku
Sekarang mulai biru, biru untuk melihatmu
Nafasku masih dangkal, lidahku kering tak bergerak
Sebentar aku melangkah menuju biru
Membawa sedikit merah untukmu, hanya kepadamu
Biru telah kembali padaku, menjernihkan dasar pikiranku
(sudahkah aku biru?)
Subscribe to:
Comments (Atom)